MENGELOLA KELAS YANG DINAMIS
Drs. Tongato, M.Si.*
Kini cara mengajar guru kita di kelas harus telah berubah. Kalau dulu guru-guru kita mengajar dengan cara mendidik, membimbing atau melatih. Dalam hal ini, guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mengetahui segala hal. Masa depan peserta didik, ada di tangan para guru. Ibaratnya, merah-hitamnya peserta didik tergantung gurunya.
Paradigma pendidikan seperti itu kini telah berubah. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, melainkan sebagai salah satu sumber belajar. Dalam paradigma ini, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi/pengisi botol kosong. Tapi, guru harus bertindak sebagai orang yang membuat suasana kondusif agar peserta didik bisa belajar dengan nyaman. Guru harus mengupayakan tumbuh dan berkembangnya simpul-simpul saraf peserta didik dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar (joy of learning).
Perubahan paradigma mengajar ini mengharuskan guru mengubah diri dari sumber belajar menjadi pencipta suasana pembelajaran. Guru bertindak sebagai sutradara dan peserta didik sebagai aktornya. Kondisi ini mengharuskan hadirnya kreativitas dan inovasi guru dalam mengelola kelas agar benar-benar dinamis dan menyenangkan. Apa yang kita kenal dengan “Quantum Learning” dan “Quantum Teaching”, pada hakikatnya merupakan pengembangan suatu model dan strategi pembelajaran efektif dalam suasana yang menyenangkan dan penuh gairah serta bermakna sebagaimana dimaksud dalam paradigma baru mengajar ini.
Perubahan paradigma mengajar guru ini merupakan tuntutan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih di abad 21 ini. Orientasi paradigma baru pembelajaran haruslah segera direalisasikan dalam pembelajaran di kelas-kelas. Menurut Robert B. Tucker, sebagaimana dikutip Prof. Dr. H.M. Entang (2008), pakar pendidikan Universitas Pakuan, Bogor, ada 10 tantangan abad 21 yang meski kita sikapi dengan antusias agar tetap bisa eksis dalam kemajuan peradaban masyarakat dunia melalui pembelajaran di kelas-kelas. Sepuluh tantangan tersebut yakni : (1) Kecepatan, stakeholder menuntut layanan cepat dan akurat; (2) Kenyamanan, layanan yang nyaman, baik lingkungan fisik, maupun lingkungan sosial-psikologik; (3) Gelombang Generasi, generasi berbeda memiliki karakter dan tuntutan yang berbeda; (4) Adanya Banyak Pilihan, banyaknya pilihan yang bervariasi dalam kehidupan; (5) Ragam Gaya Hidup, menuntut layanan berbeda; (6) Kompetisi Harga, layanan lebih baik dengan harga lebih murah; (7) Pertambahan Nilai, layanan produk memiliki nilai tambah tersendiri; (8) Layanan Pelanggan, menjadi lebih baik, lebih baru, lebih cepat, lebih murah dan lebih sederhana; (9) Teknologi sebagai Andalan, serba modern, canggih, efektif, dan efisien; (10) Jaminan Mutu, kualitas jasa dan produk.
Guru sebagai garda terdepan bidang pendidikan, tentunya harus menyadari dan merespon dengan antusias akan keberadaan tantangan abad ke-21 ini. Tantangan tersebut haruslah diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang dinamis. Harus disadari bahwa peserta didik merupakan tunas bangsa dan generasi penerus yang sudah seharusnya mempersiapakan diri di tengah-tengah pergulatan abad ke 21.
Bagaimana caranya mengelola kelas yang dinamis agar kita bisa berkontribusi terhadap peserta didik dalam menyikapi tantangan abad 21? Dalam hal ini, UNESCO secara makro telah telah mengintrodusir pilar pendirian tentang pendidikan yang meliputi Learning to Know, Learning to Do, Tearning to Be, Learning to Live Together, dan Learning How to Learn.
Dalam tataran praktis, Utomo Dananjaya, Pakar Pendidikan Universitas Paramadina mengemukakan, perubahan paradigma baru pembelajaran membutuhkan hadirnya guru yang kompeten. Guru yang kompeten adalah guru profesional, guru yang mampu memberikan pelayanan ahli dalam pengelolaan kelas yang berpusat pada peserta didik yang ditandai oleh adanya (1) Peserta didik aktif, guru sebagai fasilitator; (2) Materi individual; (3) Sumber belajar tak terbatas; (4) Peserta didik memproduksi hasil belajar; (5) Menilai sendiri atau sesama warga belajar; (6) Belajar tak terbatas lokal; dan (7) Belajar sepanjang hayat.
Selanjutnya, pengelolaan kelas yang dinamis haruslah menghadirkan kegembiraan peserta didik. Kegembiraan di sini, sebagaimana dikemukakan Dave Meier (2002) haruslah bisa membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh peserta didik, serta terciptanya makna, pemahaman, dan nilai yang membahagiakan peserta didik. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999) membahasakan kegembiraan itu dengan terbangunnya emosi positif peserta didik. Guru yang mampu mengalirkan emosi positif dalam proses pembelajaran, tentunya ia akan menghadirkan suasana kelas yang dinamis.
Dalam merealisasikan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ini, dapat digunakan medium yang sudah dikenal seperti show and tell, morning talk, jurnal, project of inquiry, case study, sosiodrama, games atau structured experiences. Medium ini dapat digunakan sebagai upaya mewujudkan suasana dan proses pembelajaran peserta didik aktif dan menyenangkan dalam mengembangkan potensi diri. Apabila hal ini diupayakan, maka kita bisa berharap akan lahirnya generasi baru yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan yang kokoh, mampu mengendalikan diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan paripurna, akhlak mulia dan keterampilan yang bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab***
* Guru SMA PKP Jakarta Islamic School, Jakarta.
Senin, 27 Juli 2009
CATATAN MASA BAKTI KEPALA SMA PKP JIS 2009
CATATAN MASA BAKTI
KEPALA SMA PKP JAKARTA ISLAMIC SCHOOL
PERIODE 2006 - 2009
SMA PKP JAKARTA ISLMAIC SCHOOL
Jl. Raya PKP, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur 13720
Telepon (021) 8720627
2009
PENGANTAR
Pengurus PKP Jakarta Islamic School sejak 2009 telah mencanangkan program Rintisan Sekolah Standar Nasional (SSN)/Sekolah Kategori Mandiri (SKM) untuk seluruh unit satuan pendidikan sebagai implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Program tersebut merupakan komitmen Pengurus dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di unit satuan pendidikan PKP Jakarta Islamic School agar memenuhi standar nasional pendidikan.
Sesuai rekomendasi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta tahun 2008, SMA PKP Jakarta Islamic School telah melaksanakan Rintisan Sekolah Standar Nasional. Perencanaan dan sosialisasi program SSN kepada peserta didik, orang tua, komite sekolah dan masyarakat telah dilaksanakan dengan arahan dan bimbingan Pengurus dan juga Bidang Pendidikan PKP.
Selanjutnya, untuk lebih meningkatkan komitmen pencapaian program rintisan SSN ini, maka Pengurus meminta Kepala SMA, SMK 1 dan SMK 2 yang memasuki tahun terakhir periode masa baktinya untuk menyususun paparan tentang Strategi Penerapan 8 Standar Pendidikan Menuju Sekolah Standar Nasional. Paparan tentang SSN ini meliputi : pengantar, kondisi yang ada, strategi pencapaian dan penutup.
Kepada segenap Pimpinan Yayasan, Kepala Bidang Pendidikan beserta staf, para wakil kepala sekolah, guru, karyawan, komite dan peserta didik beserta orang tua mereka, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus tulusnya.
Mudah-mudahan paparan yang telah penulis persiapkan ini bermanfaat bagi pelaksanaan program SSN di lingkungan unit satuan pendidikan PKP Jakarta Islamic School.
Jakarta, 25 Juni 2009
Penyusun,
Drs. Tongato, M.Si.
BAB I
KONDISI IDEAL
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat pada era globalisasi ini menuntut peningkatan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Secara kuantitatif perkembangan pendidikan PKP Jakarta Islamic School selama ini cukup menggembirakan. Namun, harus disadari bahwa secara kualitatif masih belum memenuhi idealitas dan harapan dalam memasuki era globalisasi sekarang ini.
Sebagaimana kita ketahui, penyelenggaraan pendidikan saat ini harus membekali peserta didik dengan berbagai kecakapan hidup (life skill/life competency) yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan harus mengacu kepada empat pilar belajar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Seiring dengan telah dicanangkannya “Penataan dan Pembangunan Kembali Kampus” oleh Gubernur DKI Jakarta tahun 2005 yang disertai harapan agar Kampus PKP Jakarta Islamic School menjadi salah satu model pendidikan bernafaskan Islam yang dapat dibanggakan, maka diperlukan pemikiran yang mengarah kepada paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan di Kampus PKP Jakarta Islamic School.
Dalam kaitan ini, SMA PKP Jakarta Islamic School memiliki peran dan tanggung jawab terhadap peningkatan kualitas pelayanan pendidikan sehingga out put yang dihasilkan mampu berprestasi, berkreasi, berakhlak mulia dan mampu melanjutkan pendidikan tinggi berkualitas. Motto cerdas, takwa dan berbudaya harus melekat dalam diri setiap lulusan SMA PKP Jakarta Islamic School.
Salah satu tahapan upaya merealisasikan peran dan tanggung jawab tersebut, adalah kewajiban untuk menjadikan SMA PKP Jakarta Islamic School menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN), dan untuk kemudian menjadi Sekolah Bertaraf Internaional (SBI).
Merujuk pada ketentuan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, SSN merupakan sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Mengingat hal tersebut maka perlu penyusunan Strategi Penerapan 8 Standar Pendidikan Menuju Sekolah Standar Nasional pada SMA PKP Jakarta Islamic School. Delapan standar pendidikan yang dimaksud meliputi standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Berikut pengertian 8 standar tersebut adalah :
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan.
Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik.
BAB II
KONDISI YANG ADA
Guna melihat kondisi penyelenggaraan pendidikan yang ada di SMA PKP Jakarta Islamic School selama ini, maka akan ditelaah dengan perangkat analisis Strengthness, Weakness, Oportunity, dan Threat (SWOT), sebagai berikut :
STRENGTHENESS
Ø Lebih dari 95% guru berpendidikan sarjana
Ø Lebih dari 80% guru berpengalaman mengajar lebih dari 4 tahun
Ø Seratus persen guru berlatar belakang pendidikan sesuai dengan tugasnya
Ø Semua guru telah mengikuti program peningkatan profesi IHT, seminar, pelatihan dan pendidikan serta melalui kegiatan MGMP
Ø Telah terakreditasi A
Ø Sejak 2008/2009 menjadi Rintisan Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional (RSKM/SSN)
WEAKNES
Ø Sistem penggajian yang masih konvensional dalam implementasinya
Ø Sekitar 10% guru dan karyawan memiliki motivasi rendah dalam kinerjanya
Ø Kualitas input peserta didik dari segi NUN masih di bawah sekolah negeri
Ø Belum memiliki mekanisme seleksi guru
Ø Belum memiliki mekanisme fit & proper test berjenjang/periodik bagi guru & karyawan
Ø Belum memiliki guru BK/BP dan tenaga laboranyang sesuai dalam bidang studi dan sesuai dengan rasio kebutuhan
Ø Guru bersertifikasi baru 20 %
Ø Motivasi belajar siswa sebagian masih rendah
OPORTUNITY
Ø Ada 3 guru yang bergelar magister
Ø Ada 3 guru yang berprestasi
Ø Ada kemitraan/sister school
Ø Dukungan orang tua/komite sekolah kooperatif
Ø Dukungan pemerintah daerah cukup besar secara finansial
Ø Sarana dan prasarana sekolah memadai
Ø Rerata input peserta didik mulai berasal dari kalangan terdidik
THREAT
Ø Berada pada satu wilayah berdekatan dengan 4 sekolah negeri dan swasta
BAB III
STRATEGI PENCAPAIAN
Strategi pencapaian penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN meliputi beberapa tahap, yaitu :
A. Tahap Pesiapan
Pada tahap ini sekolah membentuk tim untuk mempelajari perangkat/dokumen pendukung pelaksanaan model rintisan SSN Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, meliputi : konsep SSN, program implementasi rintisan SSN, panduan verifikasi profil SMA PKP Jakarta Islamic School, panduan penyusunan program kerja sekolah pelaksana rintisan SSN, panduan dan instrumen supervisi dan evaluasi keterlaksanaan program rintisan SSN.
Setelah perangkat/dokumen tersebut dipahami tim, langkah berikutnya adalah mengadakan sosialisasi program SSN kepada civitas sekolah dan stakeholder yang ada. Hal ini guna menyatukan persepsi, langkah dan energi dalam implementasi pelaksanaan program.
Hal penting lainnya dalam tahap ini adalah melatih tim evaluasi sekolah dan menentukan fokus pada aspek yang akan dievaluasi berikut indikatornya.
B. Tahap Program Rintisan SSN
Pada tahap ini, SMA PKP Jakarta Islamic School memulai program rintisan SSN dengan pokok-pokok kegiatan yang meliputi :
Mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang SSN dari berbagai sumber.
Mengolah informasi yang didapat dan mendeskripsikannya.
Menyusun program pencapaian sekolah standar nasional jangka menengah (3 tahun) yang dioperasionalkan dalam program tahunan.
Melaksanakan program sesuai dengan target dan waktu yang telah ditetapkan.
Proaktif mengembangkan diri dengan menggerakkan dan mendayagunakan potensi sumber daya internal dan eksternal sekolah.
Secara bertahap melaksanakan moving class, team teaching dan Sistem Kredit Semester.
C. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut
Melakukan evaluasi internal terhadap tingkat keterlaksanaan program rintisan SSN.
Menyusun skala prioritas berikutnya.
Menetapkan sasaran dan target sekolah.
Melakukan tindak lanjut atas hasil evaluasi internal, skala prioritas dan sasaran serta target berikutnya untuk mencapai SSN.
Untuk menjamin ketercapain tahap penerapan depalan standar pendidikan menuju SSN maka sekolah perlu mengaplikasikan 4 teknik sebagai berikut :
School Review
Suatu proses evaluasi untuk melihat efektifitas sekolah dan mutu lulusan dengan meilbatkan orang tua, komite dan ahli pendidikan. Kegiatan ini penting untuk mengetahui pencapain sekolah apakah sudah sesuai dengan harapan orang tua dan peserta didik; faktor apa yang mendukung dan faktor apa yang menghambat pencapain program. School Review ini akan menghasilkan rumusan tentang kelemahan dan kelebihan sekolah dan juga rekomendasi untuk pengembangan program tahun mendatang.
Benchmarking
Suatu kegiatan untuk menetapkan standard an target yang akan dicapai dalam periode tertentu. Kegiatan ini berguna dalam menjawab pertanyaan : seberapa baik kondisi sekolah, harus menjadi seberapa baik, dan bagaimana cara untuk mencapainya.
Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah tentukan fokus, aspek/variabel atau indikator, standar, dan pembandingan standar dengan kondisi yang ada serta kesenjangan yang terjadi.
Quality Assurance
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana mestinya. Dengan teknik ini akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik menekankan pada monitoring yang berkelanjutan, dan melembaga, menjadi subsistem sekolah. Teknik ini akan menghasilkan informasi umpan balik dan jaminan bagi orang tua bahwa sekolah senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik.
Quality Control
Suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar. Teknik ini memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga dapat ditentukan penyimpangan kualitas yang terjadi.
BAB IV
PENUTUP
Paparan penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN di SMA PKP Jakarta Islamic School ini merupakan upaya mencapai tuntutan dasar Undang Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Dalam upaya mencapai tuntutan dasar tersebut, analisis SWOT terhadap kondisi yang ada di SMA PKP Jakarta Islamic School dilakukan sebagai start point, titik pijak memulai upaya pencapaian. Seluruh civitas akademik dan stakeholder terlibat dan melibatkan diri sesuai dengan peran, fungsi dan tugas pokoknya.
Tahapan pencapaian harus dirumuskan dan disosialisasikan guna menyamakan persepsi dan langkah penerapan 8 standar pendidikan. Upaya ini sangat penting agar semua pihak memahami dan berupaya maksimal dalam mencapai standar SSN.
Evaluasi program dan implementasi program juga merupakan hal penting lainnya yang mesti terus dilakukan. Dengan langkah ini, sisi-sisi kelemahan rumusan program dan implementasinya akan bisa segera diperbaiki. Dan, sisi kekuatannya akan bisa mendorong dan menambah energi pencapaian program.
Harus diakui bahwa paparan penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN ini merupakan upaya awal yang masih perlu perbaikan. Masukan dan saran konstruktif sangat diharapkan.
Semoga paparan penerpana 8 standar pendidikan menuju SSN ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2009. Perangkat Rintisan SKM/SSN.
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2000. Panduan Manajemen Sekolah.
Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi, Provinsi DKI Jakarta. 2008. Pedoman Pelaksanaan Percepatan Peningkatan Mutu SMA Provinsi DKI Jakarta 2008.
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Soedijarto, 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
KEPALA SMA PKP JAKARTA ISLAMIC SCHOOL
PERIODE 2006 - 2009
SMA PKP JAKARTA ISLMAIC SCHOOL
Jl. Raya PKP, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur 13720
Telepon (021) 8720627
2009
PENGANTAR
Pengurus PKP Jakarta Islamic School sejak 2009 telah mencanangkan program Rintisan Sekolah Standar Nasional (SSN)/Sekolah Kategori Mandiri (SKM) untuk seluruh unit satuan pendidikan sebagai implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Program tersebut merupakan komitmen Pengurus dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di unit satuan pendidikan PKP Jakarta Islamic School agar memenuhi standar nasional pendidikan.
Sesuai rekomendasi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta tahun 2008, SMA PKP Jakarta Islamic School telah melaksanakan Rintisan Sekolah Standar Nasional. Perencanaan dan sosialisasi program SSN kepada peserta didik, orang tua, komite sekolah dan masyarakat telah dilaksanakan dengan arahan dan bimbingan Pengurus dan juga Bidang Pendidikan PKP.
Selanjutnya, untuk lebih meningkatkan komitmen pencapaian program rintisan SSN ini, maka Pengurus meminta Kepala SMA, SMK 1 dan SMK 2 yang memasuki tahun terakhir periode masa baktinya untuk menyususun paparan tentang Strategi Penerapan 8 Standar Pendidikan Menuju Sekolah Standar Nasional. Paparan tentang SSN ini meliputi : pengantar, kondisi yang ada, strategi pencapaian dan penutup.
Kepada segenap Pimpinan Yayasan, Kepala Bidang Pendidikan beserta staf, para wakil kepala sekolah, guru, karyawan, komite dan peserta didik beserta orang tua mereka, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus tulusnya.
Mudah-mudahan paparan yang telah penulis persiapkan ini bermanfaat bagi pelaksanaan program SSN di lingkungan unit satuan pendidikan PKP Jakarta Islamic School.
Jakarta, 25 Juni 2009
Penyusun,
Drs. Tongato, M.Si.
BAB I
KONDISI IDEAL
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat pada era globalisasi ini menuntut peningkatan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Secara kuantitatif perkembangan pendidikan PKP Jakarta Islamic School selama ini cukup menggembirakan. Namun, harus disadari bahwa secara kualitatif masih belum memenuhi idealitas dan harapan dalam memasuki era globalisasi sekarang ini.
Sebagaimana kita ketahui, penyelenggaraan pendidikan saat ini harus membekali peserta didik dengan berbagai kecakapan hidup (life skill/life competency) yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan harus mengacu kepada empat pilar belajar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Seiring dengan telah dicanangkannya “Penataan dan Pembangunan Kembali Kampus” oleh Gubernur DKI Jakarta tahun 2005 yang disertai harapan agar Kampus PKP Jakarta Islamic School menjadi salah satu model pendidikan bernafaskan Islam yang dapat dibanggakan, maka diperlukan pemikiran yang mengarah kepada paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan di Kampus PKP Jakarta Islamic School.
Dalam kaitan ini, SMA PKP Jakarta Islamic School memiliki peran dan tanggung jawab terhadap peningkatan kualitas pelayanan pendidikan sehingga out put yang dihasilkan mampu berprestasi, berkreasi, berakhlak mulia dan mampu melanjutkan pendidikan tinggi berkualitas. Motto cerdas, takwa dan berbudaya harus melekat dalam diri setiap lulusan SMA PKP Jakarta Islamic School.
Salah satu tahapan upaya merealisasikan peran dan tanggung jawab tersebut, adalah kewajiban untuk menjadikan SMA PKP Jakarta Islamic School menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN), dan untuk kemudian menjadi Sekolah Bertaraf Internaional (SBI).
Merujuk pada ketentuan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, SSN merupakan sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Mengingat hal tersebut maka perlu penyusunan Strategi Penerapan 8 Standar Pendidikan Menuju Sekolah Standar Nasional pada SMA PKP Jakarta Islamic School. Delapan standar pendidikan yang dimaksud meliputi standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Berikut pengertian 8 standar tersebut adalah :
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan.
Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik.
BAB II
KONDISI YANG ADA
Guna melihat kondisi penyelenggaraan pendidikan yang ada di SMA PKP Jakarta Islamic School selama ini, maka akan ditelaah dengan perangkat analisis Strengthness, Weakness, Oportunity, dan Threat (SWOT), sebagai berikut :
STRENGTHENESS
Ø Lebih dari 95% guru berpendidikan sarjana
Ø Lebih dari 80% guru berpengalaman mengajar lebih dari 4 tahun
Ø Seratus persen guru berlatar belakang pendidikan sesuai dengan tugasnya
Ø Semua guru telah mengikuti program peningkatan profesi IHT, seminar, pelatihan dan pendidikan serta melalui kegiatan MGMP
Ø Telah terakreditasi A
Ø Sejak 2008/2009 menjadi Rintisan Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional (RSKM/SSN)
WEAKNES
Ø Sistem penggajian yang masih konvensional dalam implementasinya
Ø Sekitar 10% guru dan karyawan memiliki motivasi rendah dalam kinerjanya
Ø Kualitas input peserta didik dari segi NUN masih di bawah sekolah negeri
Ø Belum memiliki mekanisme seleksi guru
Ø Belum memiliki mekanisme fit & proper test berjenjang/periodik bagi guru & karyawan
Ø Belum memiliki guru BK/BP dan tenaga laboranyang sesuai dalam bidang studi dan sesuai dengan rasio kebutuhan
Ø Guru bersertifikasi baru 20 %
Ø Motivasi belajar siswa sebagian masih rendah
OPORTUNITY
Ø Ada 3 guru yang bergelar magister
Ø Ada 3 guru yang berprestasi
Ø Ada kemitraan/sister school
Ø Dukungan orang tua/komite sekolah kooperatif
Ø Dukungan pemerintah daerah cukup besar secara finansial
Ø Sarana dan prasarana sekolah memadai
Ø Rerata input peserta didik mulai berasal dari kalangan terdidik
THREAT
Ø Berada pada satu wilayah berdekatan dengan 4 sekolah negeri dan swasta
BAB III
STRATEGI PENCAPAIAN
Strategi pencapaian penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN meliputi beberapa tahap, yaitu :
A. Tahap Pesiapan
Pada tahap ini sekolah membentuk tim untuk mempelajari perangkat/dokumen pendukung pelaksanaan model rintisan SSN Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, meliputi : konsep SSN, program implementasi rintisan SSN, panduan verifikasi profil SMA PKP Jakarta Islamic School, panduan penyusunan program kerja sekolah pelaksana rintisan SSN, panduan dan instrumen supervisi dan evaluasi keterlaksanaan program rintisan SSN.
Setelah perangkat/dokumen tersebut dipahami tim, langkah berikutnya adalah mengadakan sosialisasi program SSN kepada civitas sekolah dan stakeholder yang ada. Hal ini guna menyatukan persepsi, langkah dan energi dalam implementasi pelaksanaan program.
Hal penting lainnya dalam tahap ini adalah melatih tim evaluasi sekolah dan menentukan fokus pada aspek yang akan dievaluasi berikut indikatornya.
B. Tahap Program Rintisan SSN
Pada tahap ini, SMA PKP Jakarta Islamic School memulai program rintisan SSN dengan pokok-pokok kegiatan yang meliputi :
Mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang SSN dari berbagai sumber.
Mengolah informasi yang didapat dan mendeskripsikannya.
Menyusun program pencapaian sekolah standar nasional jangka menengah (3 tahun) yang dioperasionalkan dalam program tahunan.
Melaksanakan program sesuai dengan target dan waktu yang telah ditetapkan.
Proaktif mengembangkan diri dengan menggerakkan dan mendayagunakan potensi sumber daya internal dan eksternal sekolah.
Secara bertahap melaksanakan moving class, team teaching dan Sistem Kredit Semester.
C. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut
Melakukan evaluasi internal terhadap tingkat keterlaksanaan program rintisan SSN.
Menyusun skala prioritas berikutnya.
Menetapkan sasaran dan target sekolah.
Melakukan tindak lanjut atas hasil evaluasi internal, skala prioritas dan sasaran serta target berikutnya untuk mencapai SSN.
Untuk menjamin ketercapain tahap penerapan depalan standar pendidikan menuju SSN maka sekolah perlu mengaplikasikan 4 teknik sebagai berikut :
School Review
Suatu proses evaluasi untuk melihat efektifitas sekolah dan mutu lulusan dengan meilbatkan orang tua, komite dan ahli pendidikan. Kegiatan ini penting untuk mengetahui pencapain sekolah apakah sudah sesuai dengan harapan orang tua dan peserta didik; faktor apa yang mendukung dan faktor apa yang menghambat pencapain program. School Review ini akan menghasilkan rumusan tentang kelemahan dan kelebihan sekolah dan juga rekomendasi untuk pengembangan program tahun mendatang.
Benchmarking
Suatu kegiatan untuk menetapkan standard an target yang akan dicapai dalam periode tertentu. Kegiatan ini berguna dalam menjawab pertanyaan : seberapa baik kondisi sekolah, harus menjadi seberapa baik, dan bagaimana cara untuk mencapainya.
Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah tentukan fokus, aspek/variabel atau indikator, standar, dan pembandingan standar dengan kondisi yang ada serta kesenjangan yang terjadi.
Quality Assurance
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana mestinya. Dengan teknik ini akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik menekankan pada monitoring yang berkelanjutan, dan melembaga, menjadi subsistem sekolah. Teknik ini akan menghasilkan informasi umpan balik dan jaminan bagi orang tua bahwa sekolah senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik.
Quality Control
Suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar. Teknik ini memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga dapat ditentukan penyimpangan kualitas yang terjadi.
BAB IV
PENUTUP
Paparan penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN di SMA PKP Jakarta Islamic School ini merupakan upaya mencapai tuntutan dasar Undang Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Dalam upaya mencapai tuntutan dasar tersebut, analisis SWOT terhadap kondisi yang ada di SMA PKP Jakarta Islamic School dilakukan sebagai start point, titik pijak memulai upaya pencapaian. Seluruh civitas akademik dan stakeholder terlibat dan melibatkan diri sesuai dengan peran, fungsi dan tugas pokoknya.
Tahapan pencapaian harus dirumuskan dan disosialisasikan guna menyamakan persepsi dan langkah penerapan 8 standar pendidikan. Upaya ini sangat penting agar semua pihak memahami dan berupaya maksimal dalam mencapai standar SSN.
Evaluasi program dan implementasi program juga merupakan hal penting lainnya yang mesti terus dilakukan. Dengan langkah ini, sisi-sisi kelemahan rumusan program dan implementasinya akan bisa segera diperbaiki. Dan, sisi kekuatannya akan bisa mendorong dan menambah energi pencapaian program.
Harus diakui bahwa paparan penerapan 8 standar pendidikan menuju SSN ini merupakan upaya awal yang masih perlu perbaikan. Masukan dan saran konstruktif sangat diharapkan.
Semoga paparan penerpana 8 standar pendidikan menuju SSN ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2009. Perangkat Rintisan SKM/SSN.
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2000. Panduan Manajemen Sekolah.
Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi, Provinsi DKI Jakarta. 2008. Pedoman Pelaksanaan Percepatan Peningkatan Mutu SMA Provinsi DKI Jakarta 2008.
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Soedijarto, 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
PENELITIAN TINDAKAN KELAS & OLEH-OLEH DARI MUTHAHHARI
MAKALAH
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Drs. Tongato, M.Si.
Tampaknya kegiatan penelitian merupakan sesuatu yang belum familiar dalam aktivitas kehidupan guru. Guru identik dengan proses pembelajaran dalam kelas. Bahkan sebagian guru menganggap bahwa proses pembelajaran menjadi satu-satunya tugas kependidikan. Mereka telah mendarah-daging dengan aktivitas keseharian ini. Seolah tiada dunia lain yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk lebih mengaktualisasikan proses pembelajaran di kelas; untuk lebih menggali berbagai potensi dalam diri peserta didik yang sudah semestinya menjadi aktual.
Kiranya, berangkat dari keadaan inilah Pimpinan Yayasan PKP DKI Jakarta tergerak untuk mengadakan Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi guru yang telah terlaksana dengan baik 15 dan 16 Desember 2006 yang baru lalu. Follow up pelatihan itu dalam waktu dekat ini akan segera diikuti dengan realisasi PTK oleh guru-guru yang telah mengikuti pelatihan di setiap jenjang unit satuan pendidikan di lingkungan PKP. Ini merupakan langkah maju dan tampaknya akan membawa preseden yang baik bagi peningkatan mutu pembelajaran ke depan.
PTK sebagaimana penelitian yang lain, tentunya akan membawa guru yang terlibat dalam penelitian akan bersikap kritis dan memunculkan courousity, sikap ingin tahu. Dengan demikian diharapkan guru akan selalu berusaha mempertanyakan dengan kreatif segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam proses pembelajaran. Kebiasaan yang sudah “baku-membeku” yang tampak sudah seharusnya segera dipertanyakan kembali.
Mempertanyakan kebiasaan ataupun metode pembelajaran yang sudah baku dengan PTK, bukanlah dimaksudkan untuk merongrong kebiasaan yang sudah baik itu. Kita hanya ingin meyakinkan diri kita, apakah dibalik sesuatu yang sudah baik ada yang lebih baik dan lebih efektif lagi dalam proses pembelajaran. Atau justru ada kebaikan lain yang perlu kita kembangkan yang selama ini kita belum ketahui. Dengan demikian, tentunya PTK disamping akan menguji apa yang sudah baik, tapi juga akan menemukan metode yang baik yang lain. Disini, kita harus juga mengakui bahwa baik saja tidaklah cukup dalam era kemajuan teknologi yang demikian pesat perkembangannya saat ini. Baik dan tepat serta cepat merupakan kombinasi yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran dalam mengaktualisasi potensi peseta didik.
Untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam penelitian, seorang peneliti harus memiliki komitmen yang kuat untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ia tidak takut mengalami kegagalan demi kegagalam dalam melakukan penelitian. Justru kegagalan-kegagalan itu akan menjadi tangga menuju kepada suatu penemuan sebagai hasil penelitian.
Dalam kaitan ini, kita bisa belajar dari kegagalan demi kegagalan yang dialami Thomas Alfa Edison, penemu ulung. Edison melakukan 9.000 percobaan untuk menyempurnakan bola lampunya dan lebih dari 50.000 percobaan untuk menemukan aki. Ketika ditanya, tentang sikapnya dalam menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam berbagai percobaannya, ia menyatakan dengan lembut bahwa kegagalan demi kegagalan yang dialaminya merupakan penemuan ribuan benda yang tidak bisa dihindari dalam proses menuju satu penemuan yang berhasil.
Kita barangkali tidak harus berlaku seperti Thomas Alfa Edison. Ada contoh kasus yang menarik berkenaan dengan PTK ini, yakni apa yang dilakukan Maria Montesori dalam merubah metode pembalajaran di Taman Kanak-kanak seperti dimuat dalam buku Sepuluh Cara Jadi Orang yang Jenius Kreatif karya Tony Buzan. Diceritakan bahwa pada awal 1900-an, dunia pendidikan Taman Kanak-kanak dan sekolah dasar, dibangun dan diajarkan dari sudut pandang orang dewasa. Kursi dan mejanya berukuran besar, kasar dan berat; susunannya bersifat kaku. Murid-muridnya harus berperilaku mengikuti peraturan militer. Tanpa warna dan hambar, tidak menyertakan unsur-unsur alam. Selama belajar, murid-murid harus diam, dilarang mengajukan pertanyaan. Pelajarannya hanyalah membaca, menulis dan aritmatika, tanpa ada kreatifitas.
Melihat keadaan yang demikian, Maria Montesori kemudian berusaha menempatkan diri dalam benak anak berusia Taman Kanak-kanak dan sekolah dasar dan merintis lingkungan pendidikan bagi mereka. Sejak itu, muncullah sekolah Montesori dimana meja, kursi dan bangku dirancang untuk tubuh-tubuh yang masih kecil. Ruang kelasnya dicat dengan penuh warna dengan pajangan benda-benda yang indah dan penuh wangi. Alam menjadi bagian ruang kelas dalam bentuk tanaman dalam pot, akuarium dan hewan peliharaan. Murid-murid boleh tidak diam, pertanyaan dihargai dan kreatifitas anak dikembangkan.
Ada satu contoh lagi yang perlu kita simak juga berkenaan dengan PTK ini. Dalam majalah Tempo, 25 -31 Desember 2006, edisi khusus tokoh pilihan, menampilkan 10 tokoh muda yang mengubah Indonesia. Dari kesepuluh tokoh muda itu, ada Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga yang berhasil menemukan metode Jarimatika, kependekan dari jari dan matemetika. Penemuan metode Jarimatika yang kini sudah digunakan secara luas di tanah air, bermula dari kebingungan Septi dalam mengajari anak sulungnya belajar berhitung saat masih TK. Berbagai cara dilakukan, termasuk dengan sempoa. Namun, anaknya tak paham juga dan memilih jari untuk bantuan. Dari sinilah, Septi kemudian mengotak-atik jari tangannya untuk menghitung yang dikombinasikan dengan metode kumon dan sempoa.
Kombinasi metode kumon, sempoa dan jari untuk belajar menghitung temuan Septi itu yang disebut Jarimatika ternyata berhasil membuat anak sulungnya mahir matematika dan menggemarinya. Atas keberhasilannya ini, Septi menulis buku metode Jarimatika yang sudah dicetak ulang dan mendirikan Lembaga Jarimatika Center Indonesia yang kini memiliki 29 kantor cabang di Jawa, Sumatra dan Papua.
Demikian beberapa contoh penemuan yang tampaknya perlu kita rintis dalam bidang pembelajaran di kelas. Apa yang telah dilakukan Edison, Montesori dan Septi, awalnya merupakan sesuatu yang ada di lingkungan mereka sebagai sesuatu yang wajar bagi kebanyakan orang. Rupanya, mereka jeli bahwa ada permasalahan yang perlu diteliti dan dipecahkan jalan terbaiknya. Tentunya, dalam kebiasaan kita mengajar sehari-hari, pastilah ada sesuatu yang mesti kita ketemukan permasalahannya untuk kemudian kita temukan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih dalam menggali dan mengembangkan potensi peserta didik. Selamat meneliti!****
OLEH OLEH DARI MUTHAHHARI
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Berangkat dari keinginan untuk menjadikan PKP sebagai centre of execelent dalam bidang pendidikan, maka Badan Pengurus memberangkatkan rombongan pegurus, kepala satuan unit, guru dan karyawan untuk melakukan studi komparatif ke SMA Plus Muthahhari, Bandung (17/1). SMA Plus Muthahhari dipilih sebagai sasaran studi komparatif, bukan saja sekolah yang menyatakan diri sebagai Sekolah Para Juara itu telah menjadi Sekolah Model Depdiknas untuk Pembinaan Budi Pekerti (2002), tapi juga sekolah Percontohan Depdiknas untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (2002-2004) dan juga Sekolah Percontohan Depdiknas untuk Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (2005).
SMA Plus Muthahhari menggunakan tiga kurikulum sekaligus, yakni Kurikulum Nasional (regular), Kurikulum Yayasan, dan Kurikulum Murid (X-Day). Kurikulum Nasional diaplikasikan dengan beberapa modifikasi seperti test out dan program akselerasi. Kurikulum Yayasan terdiri dari Life Skill, Penguasaan teknologi computer dan internet, Bahasa Inggris Plus, Bahasa Arab, Dirasah Islamiyyah: Basic Islam, ‘Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Ushul Fiqh, Fiqh al-Muqaran, Tarikh (Indoor) Spiritual Camp, Spiritual Workcamp, Kunjungan Keagamaan, dan Pesantren Ramadhan (Outdoor). Sedangkan Kurikulum Murid merupakan kurikulum sesuai permintaan murid. Diajarkan khusus pada hari Rabu, meliputi Bahasa: Jerman, Perancis, Jepang, Arab, Persia, Jurnalistik, Sastra dll; Kesenian: Nasyid, Desain Grafis, Paduan Suara, Teater, Gitar, Seni Tradisional, Animasi, Tari, dll; Olahraga: Sepakbola, Basket, Bulutangkis, Tenis Meja, Beladiri, Tenis dan sebagainya. Begitu pula ragam organisasi yang dapat diikuti sesuai minat murid.
Sebagai ruh yang melandasi penyelenggaraan pendidikannya, SMA Plus Muthahhari menerapakan konsep filosofi pendidikan Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, founding fathernya bahwa (1) Pendidikan harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa; (2) Manusia memiliki kemampuan yang hamper tidak ada batasnya; dan (3) Ajaran agama yang mengantarkan murid pada proses kembali kepada Tuhan. Aplikasi filosofi pendidikan yang demikian dilaksanakan dengan metode pendidikan yang menciptakan lingkungan fisik yang menyenangkan, penyertaan musik dalam pengajaran, modeling, menanamkan rasa bangga, berfikir positif dan menghindari kritik. Sedangkan metode pengajarannya menggunakan Accelerated Learning, E-Learning, Multiple Intelligences dan Special Treatment for Special Students.
Yang membedakan SMA Plus Muthahhari dengan sekolah yang lain diantarannya perpustakaan dengan ribuan judul berbahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Arab dan Parsi, Jambore Science, Resital, selain juga SMUTHPoints. Yang terakhir ini menarik, karena berkenaan dengan bagaimana melayani murid dalam proses pendidikan. Dalam SMUTHPoints ini setiap murid memperoleh poins 100. Point 100 ini akan berkurang manakala murid melakukan pelanggaran tata tertib. Namun, point yang sudah berkurang dapat kembali 100 manakala murid yang melakukan pelanggaran tata tertib segera melakukan kebaikan tertentu. SMUTHPoints menarik karena ada peluang murid untuk memperbaiki diri manakala telah melanggar peraturan.
Dalam menanggani murid yang melakukan pelanggaran tata tertib, guru tidak akan pernah menggunakan hukuman yang bersifat fisik seperti lari, scot jump dll. Hukuman yang bersifat fisik ini telah diganti dengan hukuman yang lebih “menyentuh emosi” peserta didik. Contoh, murid yang melanggar peraturan tertentu diminta untuk tinggal di Panti Jompo untuk mencuci pakaian penghuninya. Ini relative menyentuh, karena anak diingatkan bahwa dirinya suatu saat akan tua renta seperti mereka.
Demikian beberapa oleh-oleh dari SMA Plus Muthahhari, Bandung. Barangkali yang terpenting sebagai hasil studi komparatif itu, bukanlah meniru apa yang ada di SMA Muthahhari. Tapi, tampaknya kita harus melihat kedalam diri, potensi apa yang perlu digali dan penting dikembangkan dari PKP, sehingga tidak mengekor kesuksesan lembaga lain. Penggalian potensi diri yang dilakukan dengan penuh komitmen, tentunya akan menjadikan PKP memiliki brand tersendiri sebagai trade mark-nya.***
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Drs. Tongato, M.Si.
Tampaknya kegiatan penelitian merupakan sesuatu yang belum familiar dalam aktivitas kehidupan guru. Guru identik dengan proses pembelajaran dalam kelas. Bahkan sebagian guru menganggap bahwa proses pembelajaran menjadi satu-satunya tugas kependidikan. Mereka telah mendarah-daging dengan aktivitas keseharian ini. Seolah tiada dunia lain yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk lebih mengaktualisasikan proses pembelajaran di kelas; untuk lebih menggali berbagai potensi dalam diri peserta didik yang sudah semestinya menjadi aktual.
Kiranya, berangkat dari keadaan inilah Pimpinan Yayasan PKP DKI Jakarta tergerak untuk mengadakan Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi guru yang telah terlaksana dengan baik 15 dan 16 Desember 2006 yang baru lalu. Follow up pelatihan itu dalam waktu dekat ini akan segera diikuti dengan realisasi PTK oleh guru-guru yang telah mengikuti pelatihan di setiap jenjang unit satuan pendidikan di lingkungan PKP. Ini merupakan langkah maju dan tampaknya akan membawa preseden yang baik bagi peningkatan mutu pembelajaran ke depan.
PTK sebagaimana penelitian yang lain, tentunya akan membawa guru yang terlibat dalam penelitian akan bersikap kritis dan memunculkan courousity, sikap ingin tahu. Dengan demikian diharapkan guru akan selalu berusaha mempertanyakan dengan kreatif segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam proses pembelajaran. Kebiasaan yang sudah “baku-membeku” yang tampak sudah seharusnya segera dipertanyakan kembali.
Mempertanyakan kebiasaan ataupun metode pembelajaran yang sudah baku dengan PTK, bukanlah dimaksudkan untuk merongrong kebiasaan yang sudah baik itu. Kita hanya ingin meyakinkan diri kita, apakah dibalik sesuatu yang sudah baik ada yang lebih baik dan lebih efektif lagi dalam proses pembelajaran. Atau justru ada kebaikan lain yang perlu kita kembangkan yang selama ini kita belum ketahui. Dengan demikian, tentunya PTK disamping akan menguji apa yang sudah baik, tapi juga akan menemukan metode yang baik yang lain. Disini, kita harus juga mengakui bahwa baik saja tidaklah cukup dalam era kemajuan teknologi yang demikian pesat perkembangannya saat ini. Baik dan tepat serta cepat merupakan kombinasi yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran dalam mengaktualisasi potensi peseta didik.
Untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam penelitian, seorang peneliti harus memiliki komitmen yang kuat untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ia tidak takut mengalami kegagalan demi kegagalam dalam melakukan penelitian. Justru kegagalan-kegagalan itu akan menjadi tangga menuju kepada suatu penemuan sebagai hasil penelitian.
Dalam kaitan ini, kita bisa belajar dari kegagalan demi kegagalan yang dialami Thomas Alfa Edison, penemu ulung. Edison melakukan 9.000 percobaan untuk menyempurnakan bola lampunya dan lebih dari 50.000 percobaan untuk menemukan aki. Ketika ditanya, tentang sikapnya dalam menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam berbagai percobaannya, ia menyatakan dengan lembut bahwa kegagalan demi kegagalan yang dialaminya merupakan penemuan ribuan benda yang tidak bisa dihindari dalam proses menuju satu penemuan yang berhasil.
Kita barangkali tidak harus berlaku seperti Thomas Alfa Edison. Ada contoh kasus yang menarik berkenaan dengan PTK ini, yakni apa yang dilakukan Maria Montesori dalam merubah metode pembalajaran di Taman Kanak-kanak seperti dimuat dalam buku Sepuluh Cara Jadi Orang yang Jenius Kreatif karya Tony Buzan. Diceritakan bahwa pada awal 1900-an, dunia pendidikan Taman Kanak-kanak dan sekolah dasar, dibangun dan diajarkan dari sudut pandang orang dewasa. Kursi dan mejanya berukuran besar, kasar dan berat; susunannya bersifat kaku. Murid-muridnya harus berperilaku mengikuti peraturan militer. Tanpa warna dan hambar, tidak menyertakan unsur-unsur alam. Selama belajar, murid-murid harus diam, dilarang mengajukan pertanyaan. Pelajarannya hanyalah membaca, menulis dan aritmatika, tanpa ada kreatifitas.
Melihat keadaan yang demikian, Maria Montesori kemudian berusaha menempatkan diri dalam benak anak berusia Taman Kanak-kanak dan sekolah dasar dan merintis lingkungan pendidikan bagi mereka. Sejak itu, muncullah sekolah Montesori dimana meja, kursi dan bangku dirancang untuk tubuh-tubuh yang masih kecil. Ruang kelasnya dicat dengan penuh warna dengan pajangan benda-benda yang indah dan penuh wangi. Alam menjadi bagian ruang kelas dalam bentuk tanaman dalam pot, akuarium dan hewan peliharaan. Murid-murid boleh tidak diam, pertanyaan dihargai dan kreatifitas anak dikembangkan.
Ada satu contoh lagi yang perlu kita simak juga berkenaan dengan PTK ini. Dalam majalah Tempo, 25 -31 Desember 2006, edisi khusus tokoh pilihan, menampilkan 10 tokoh muda yang mengubah Indonesia. Dari kesepuluh tokoh muda itu, ada Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga yang berhasil menemukan metode Jarimatika, kependekan dari jari dan matemetika. Penemuan metode Jarimatika yang kini sudah digunakan secara luas di tanah air, bermula dari kebingungan Septi dalam mengajari anak sulungnya belajar berhitung saat masih TK. Berbagai cara dilakukan, termasuk dengan sempoa. Namun, anaknya tak paham juga dan memilih jari untuk bantuan. Dari sinilah, Septi kemudian mengotak-atik jari tangannya untuk menghitung yang dikombinasikan dengan metode kumon dan sempoa.
Kombinasi metode kumon, sempoa dan jari untuk belajar menghitung temuan Septi itu yang disebut Jarimatika ternyata berhasil membuat anak sulungnya mahir matematika dan menggemarinya. Atas keberhasilannya ini, Septi menulis buku metode Jarimatika yang sudah dicetak ulang dan mendirikan Lembaga Jarimatika Center Indonesia yang kini memiliki 29 kantor cabang di Jawa, Sumatra dan Papua.
Demikian beberapa contoh penemuan yang tampaknya perlu kita rintis dalam bidang pembelajaran di kelas. Apa yang telah dilakukan Edison, Montesori dan Septi, awalnya merupakan sesuatu yang ada di lingkungan mereka sebagai sesuatu yang wajar bagi kebanyakan orang. Rupanya, mereka jeli bahwa ada permasalahan yang perlu diteliti dan dipecahkan jalan terbaiknya. Tentunya, dalam kebiasaan kita mengajar sehari-hari, pastilah ada sesuatu yang mesti kita ketemukan permasalahannya untuk kemudian kita temukan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih dalam menggali dan mengembangkan potensi peserta didik. Selamat meneliti!****
OLEH OLEH DARI MUTHAHHARI
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Berangkat dari keinginan untuk menjadikan PKP sebagai centre of execelent dalam bidang pendidikan, maka Badan Pengurus memberangkatkan rombongan pegurus, kepala satuan unit, guru dan karyawan untuk melakukan studi komparatif ke SMA Plus Muthahhari, Bandung (17/1). SMA Plus Muthahhari dipilih sebagai sasaran studi komparatif, bukan saja sekolah yang menyatakan diri sebagai Sekolah Para Juara itu telah menjadi Sekolah Model Depdiknas untuk Pembinaan Budi Pekerti (2002), tapi juga sekolah Percontohan Depdiknas untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (2002-2004) dan juga Sekolah Percontohan Depdiknas untuk Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (2005).
SMA Plus Muthahhari menggunakan tiga kurikulum sekaligus, yakni Kurikulum Nasional (regular), Kurikulum Yayasan, dan Kurikulum Murid (X-Day). Kurikulum Nasional diaplikasikan dengan beberapa modifikasi seperti test out dan program akselerasi. Kurikulum Yayasan terdiri dari Life Skill, Penguasaan teknologi computer dan internet, Bahasa Inggris Plus, Bahasa Arab, Dirasah Islamiyyah: Basic Islam, ‘Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Ushul Fiqh, Fiqh al-Muqaran, Tarikh (Indoor) Spiritual Camp, Spiritual Workcamp, Kunjungan Keagamaan, dan Pesantren Ramadhan (Outdoor). Sedangkan Kurikulum Murid merupakan kurikulum sesuai permintaan murid. Diajarkan khusus pada hari Rabu, meliputi Bahasa: Jerman, Perancis, Jepang, Arab, Persia, Jurnalistik, Sastra dll; Kesenian: Nasyid, Desain Grafis, Paduan Suara, Teater, Gitar, Seni Tradisional, Animasi, Tari, dll; Olahraga: Sepakbola, Basket, Bulutangkis, Tenis Meja, Beladiri, Tenis dan sebagainya. Begitu pula ragam organisasi yang dapat diikuti sesuai minat murid.
Sebagai ruh yang melandasi penyelenggaraan pendidikannya, SMA Plus Muthahhari menerapakan konsep filosofi pendidikan Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, founding fathernya bahwa (1) Pendidikan harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa; (2) Manusia memiliki kemampuan yang hamper tidak ada batasnya; dan (3) Ajaran agama yang mengantarkan murid pada proses kembali kepada Tuhan. Aplikasi filosofi pendidikan yang demikian dilaksanakan dengan metode pendidikan yang menciptakan lingkungan fisik yang menyenangkan, penyertaan musik dalam pengajaran, modeling, menanamkan rasa bangga, berfikir positif dan menghindari kritik. Sedangkan metode pengajarannya menggunakan Accelerated Learning, E-Learning, Multiple Intelligences dan Special Treatment for Special Students.
Yang membedakan SMA Plus Muthahhari dengan sekolah yang lain diantarannya perpustakaan dengan ribuan judul berbahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Arab dan Parsi, Jambore Science, Resital, selain juga SMUTHPoints. Yang terakhir ini menarik, karena berkenaan dengan bagaimana melayani murid dalam proses pendidikan. Dalam SMUTHPoints ini setiap murid memperoleh poins 100. Point 100 ini akan berkurang manakala murid melakukan pelanggaran tata tertib. Namun, point yang sudah berkurang dapat kembali 100 manakala murid yang melakukan pelanggaran tata tertib segera melakukan kebaikan tertentu. SMUTHPoints menarik karena ada peluang murid untuk memperbaiki diri manakala telah melanggar peraturan.
Dalam menanggani murid yang melakukan pelanggaran tata tertib, guru tidak akan pernah menggunakan hukuman yang bersifat fisik seperti lari, scot jump dll. Hukuman yang bersifat fisik ini telah diganti dengan hukuman yang lebih “menyentuh emosi” peserta didik. Contoh, murid yang melanggar peraturan tertentu diminta untuk tinggal di Panti Jompo untuk mencuci pakaian penghuninya. Ini relative menyentuh, karena anak diingatkan bahwa dirinya suatu saat akan tua renta seperti mereka.
Demikian beberapa oleh-oleh dari SMA Plus Muthahhari, Bandung. Barangkali yang terpenting sebagai hasil studi komparatif itu, bukanlah meniru apa yang ada di SMA Muthahhari. Tapi, tampaknya kita harus melihat kedalam diri, potensi apa yang perlu digali dan penting dikembangkan dari PKP, sehingga tidak mengekor kesuksesan lembaga lain. Penggalian potensi diri yang dilakukan dengan penuh komitmen, tentunya akan menjadikan PKP memiliki brand tersendiri sebagai trade mark-nya.***
DUA TAHUN BULETIN PKP
DUA TAHUN BULETIN PKP
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Mempertanyakan eksistensi Buletin PKP dalam perjalanannya memasuki usia dua tahun merupakan hal yang sah-sah saja. Pertanyaan itu muncul dalam kaitannya dengan seberapa perlunya penerbitan ini dan sebagai apa kita memperlakukannya. Dan lebih jauh lagi, bagaimana kita menanggapi kehadirannya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya akan mencerminkan intensitas kepedulian kita dalam mengembangkan budaya baca-tulis sebagai bagian ‘Multiple Intelligences’ Howard Gardner dalam lingkup yang lebih kecil, dan bagaimana kita berbudaya sebagai bangsa.
Sebagaimana kita ketahui, salah satu ciri warga bangsa maju adalah masyarakatnya memiliki budaya baca-tulis yang kuat. Mereka melakukan kegiatan membaca sebagai kebutuhan primer, tiada hari tanpa membaca. Aktivitas membaca yang demikian memunculkan budaya menulis sebagai kelanjutannya. Budaya membaca dan menulis inilah yang telah mengantarkan bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Eropa yang dulunya bangsa bar-bar, bangsa primitif menjadi bangsa maju sebagaimana kita saksikan kini.
Mengapa demikian besarnya efek budaya membaca dan menulis dalam mengantarkan bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Eropa menjadi bangsa maju? Aktivitas membaca merupakan aktivitas mengkristalkan ilmu pengetahuan yang bersifat aktif-reseptif. Ketika seseorang membaca maka daya kognisi dan afeksinya bekerja secara aktif menyerap informasi beserta nuasa yang menyertainya dalam menambah kekayaan intelektual dalam dirinya. Semakin banyak seseorang membaca, maka semakin banyaklah kekayaan intelektualnya. Dan kita tahu, orang kayalah yang lebih memiliki potensi untuk berbagi.
Dalam kaitan ini, menulis merupakan aktivitas berbagi kekayaan intelektual itu. Bila warga suatu bangsa sudah memiliki tradisi baca-tulis yang tinggi, maka aktivitas intelektual akan semakin intens yang tentunya akan mendorong kajian-kajian dan temuan-temuan ilmiah dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa dipastikan, dalam masyarakat yang demikian kemajuan demi kemajuan akan mereka capai.
Sekarang, tinggal bagaimana kita memperlakukan Buletin PKP yang telah hadir di tengah-tengah kita setiap bulannya. Apakah kehadirannya kita pandang sekedar ‘ritual bulanan’, ataukah memang menjadi benih yang menumbuhkan budaya baca-tulis sehingga tumbuh menjadi tradisi yang menjadi nafas dalam keseharian? Bila sekedar ritual bulanan, kita perlu prihatin dan harus segera kita sadari, untuk kemudian kita bangkitkan agar menjadi sarana menumbuhkan budaya baca-tulis.
Memang harus kita akui, membudayakan aktivitas baca-tulis bukan persoalan mudah. Tapi, ketidakmudahannya itu bukan berarti tidak bisa dilakukan. Berbagai pernik kegiatan yang menyertainya harus dilakukan dengan beragam cara dan dalam berbagai kesempatan dengan melibatkan banyak pihak, semisal bedah buku, lomba menulis, pelatihan jurnalistik dan sebagainya. Dan yang tak kalah pentingnya, pengelola buletin harus terus berkreasi tanpa harus kehilangan dan kehabisan kreatifitas. Selamat ulang tahun, semoga semakin jernih dan cerdas dalam menyajikan informasi.***
KELUARGA BESAR
SMA PKP DKI JAKARTA
Mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-2 BULETIN PKP
Semoga menjadi bacaan yang memikat dan mencerahkan.
Jakarta, 28 Februari 2007
Drs. Tongato, M.Si.
Kepala SMA PKP
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Mempertanyakan eksistensi Buletin PKP dalam perjalanannya memasuki usia dua tahun merupakan hal yang sah-sah saja. Pertanyaan itu muncul dalam kaitannya dengan seberapa perlunya penerbitan ini dan sebagai apa kita memperlakukannya. Dan lebih jauh lagi, bagaimana kita menanggapi kehadirannya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya akan mencerminkan intensitas kepedulian kita dalam mengembangkan budaya baca-tulis sebagai bagian ‘Multiple Intelligences’ Howard Gardner dalam lingkup yang lebih kecil, dan bagaimana kita berbudaya sebagai bangsa.
Sebagaimana kita ketahui, salah satu ciri warga bangsa maju adalah masyarakatnya memiliki budaya baca-tulis yang kuat. Mereka melakukan kegiatan membaca sebagai kebutuhan primer, tiada hari tanpa membaca. Aktivitas membaca yang demikian memunculkan budaya menulis sebagai kelanjutannya. Budaya membaca dan menulis inilah yang telah mengantarkan bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Eropa yang dulunya bangsa bar-bar, bangsa primitif menjadi bangsa maju sebagaimana kita saksikan kini.
Mengapa demikian besarnya efek budaya membaca dan menulis dalam mengantarkan bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Eropa menjadi bangsa maju? Aktivitas membaca merupakan aktivitas mengkristalkan ilmu pengetahuan yang bersifat aktif-reseptif. Ketika seseorang membaca maka daya kognisi dan afeksinya bekerja secara aktif menyerap informasi beserta nuasa yang menyertainya dalam menambah kekayaan intelektual dalam dirinya. Semakin banyak seseorang membaca, maka semakin banyaklah kekayaan intelektualnya. Dan kita tahu, orang kayalah yang lebih memiliki potensi untuk berbagi.
Dalam kaitan ini, menulis merupakan aktivitas berbagi kekayaan intelektual itu. Bila warga suatu bangsa sudah memiliki tradisi baca-tulis yang tinggi, maka aktivitas intelektual akan semakin intens yang tentunya akan mendorong kajian-kajian dan temuan-temuan ilmiah dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa dipastikan, dalam masyarakat yang demikian kemajuan demi kemajuan akan mereka capai.
Sekarang, tinggal bagaimana kita memperlakukan Buletin PKP yang telah hadir di tengah-tengah kita setiap bulannya. Apakah kehadirannya kita pandang sekedar ‘ritual bulanan’, ataukah memang menjadi benih yang menumbuhkan budaya baca-tulis sehingga tumbuh menjadi tradisi yang menjadi nafas dalam keseharian? Bila sekedar ritual bulanan, kita perlu prihatin dan harus segera kita sadari, untuk kemudian kita bangkitkan agar menjadi sarana menumbuhkan budaya baca-tulis.
Memang harus kita akui, membudayakan aktivitas baca-tulis bukan persoalan mudah. Tapi, ketidakmudahannya itu bukan berarti tidak bisa dilakukan. Berbagai pernik kegiatan yang menyertainya harus dilakukan dengan beragam cara dan dalam berbagai kesempatan dengan melibatkan banyak pihak, semisal bedah buku, lomba menulis, pelatihan jurnalistik dan sebagainya. Dan yang tak kalah pentingnya, pengelola buletin harus terus berkreasi tanpa harus kehilangan dan kehabisan kreatifitas. Selamat ulang tahun, semoga semakin jernih dan cerdas dalam menyajikan informasi.***
KELUARGA BESAR
SMA PKP DKI JAKARTA
Mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-2 BULETIN PKP
Semoga menjadi bacaan yang memikat dan mencerahkan.
Jakarta, 28 Februari 2007
Drs. Tongato, M.Si.
Kepala SMA PKP
Selasa, 10 Maret 2009
WAWASAN WIYATAMANDALA
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Sekolah merupakan lembaga penyelenggara proses pembelajaran yang berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai, memproses dan menemukan ilmu pengetahuan, memproduksi teknologi, mengasah keterampilan, memperluas wawasan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu lembaga, sekolah memiliki karakteristik yang berbeda dengan lembaga lain. Ambil contoh, rumah sakit yang berfungsi untuk proses penyembuhan pasien yang datang, barak militer yang menjadikan penghuni berdisiplin keras ataupun lembaga pengadilan yang memandang terdakwa bersalah atau tidak bersalah.
Dalam kedudukannya sebagai lembaga pendidikan, sekolah merupakan sarana untuk menggali potensi peserta didik menjadi manusia yang utuh, berkepribadian, berkarakter dan mampu membelajarkan dirinya sendiri sebagai manusia pembelajar sepanjang hayatnya. Untuk mencapai fungsi ini, tentunya sekolah harus meletakkan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang mampu mengaktualkan potensi peserta didik. Suasana yang mendukung inilah yang kita namakan Wawasan Wiyatamandala.
Iklim sekolah yang kondusif untuk pembelajaran merupakan prasyarat bagi terwujudnya Wawasan Wiyatamandala. Lingkungan sekolah yang aman, tertib, bersih, nyaman, menyenangkan, penuh kreatifitas dan optimisme dalam berbagai proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik merupakan penopang Wawasan Wiyatamandala.
Arti dan Makna Wawasan Wiyatamandala
Secara harfiah kata wawasan mengandung arti pandangan, penglihatan, tinjauan atau tanggapan inderawi. Kata wawasan juga menunjuk kepada kegiatan untuk mengetahui isi, melukiskan cara memandang atau meninjau. Kata wiyata mempunyai arti pembelajaran atau pendidikan, sedangkan mandala berarti bulatan, lingkaran atau lingkungan daerah, atau kawasan. Dengan demikian, Wawasan Wiyatamandala berarti suatu pandangan atau tinjauan mengenai sekolah sebagai lingkungan tempat pembelajaran peserta didik.
Tentunya, dalam mengimplementasikan Wawasan Wiyatamandala, kita harus selalu memperhatikan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana kita ketahui, visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Selanjutnya, misi pendidikan nasional adalah sebagai berikut :
Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia
Meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional,
Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global,
Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar,
Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral,
Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global,
Mendorong peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3 dikemukakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”
Terkait dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka Wawasan Wiyatamandala mengandung makna sebagai berikut :
Pertama, penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, yang dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreatifitas peserta didik. Prinsip ini menjadikan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke arah pembelajaran. Pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dan transformasi pengetahuan kepada peserta didik, bergeser pada pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengaktualisasikan potensinya.
Kedua, adanya perubahan pandangan tentang paradigma manusia dari paradigma manusia sebagai sumber daya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subjek pembanguan. Dalam hal ini, proses pendidikan harus mencakup (1) penumbuhkembangan keimanan dan ketakwaan; (2) pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadaian; (3) pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) pengembangan penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni, serta (5) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani.
Ketiga, adanya pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial kulturalnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri dan berbudaya.
Menciptakan Pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks yang melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis. Hal ini dikarenakan, pembelajaran berlangsung dalam lingkungan pendidikan dimana peserta didik memiliki taraf perkembangan yang berbeda sehingga perlakuan peserta didik dalam belajar juga bersifat unik. Satu peserta didik dalam cara dan gaya belajarnya bervariasi sehingga membutuhkan beragam metode pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal peserta didik, serta keharusan menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Dalam pembelajaran ini, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar peserta didik.
Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Dalam pembelajan ini, guru harus mampu merangsang kreatifitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berfikir maupun dalam melakukan tindakan.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan pembelajaran yang medorong peserta didik berperan aktif dalam mencapai tujuan secara optimal. Peserta didik merupakan pusat kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya, peserta didik harus terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Guru harus mampu mengelola tempat belajar, peserta didik, kegiatan pembelajaran, isi pembelajaran dan sumber-sumber belajar.
Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa paksaan. Guru adalah mitra belajar, bahkan dalam kondisi tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari peserta didik.
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal. Selain itu, pembelajaran menyenangkan dapat dilakukan dalam proses mencari AMBAK, yakni apa manfaatnya bagiku. Menurut Quantum Learning, AMBAK yang sangat jelas dan spesifik akan memotivasi peserta didik untuk melakukan suatu kegiatan secara hebat. “Apa pun yang ingin Anda lakukan, jika Anda melakukan itu tidak memberikan manfaat, ada kemungkinan besar Anda akan ogah-ogahan melakukannya.”
Kondisi-kondisi yang Mendukung Pelaksanaan Wawasan Wiyatamandala
Kondisi-kondisi yang mendukung pelaksanaan Wawasan Wiyatamandala meliputi budaya disiplin warga sekolah, motivasi belajar, dan peran aktif orang tua dalam program sekolah.
Budaya disiplin warga sekolah
Sekolah yang tertib, aman dan tertur merupakan prasyarat agar peserta didik dapat belajar secara maksimal. Kondisi semacam ini dapat terjadi bila disiplin di sekolah berjalan dengan baik. Kedisiplinan peserta didik dapat ditumbuhkan jika iklim sekolah menunjukkan kedisiplinan. Siswa baru akan segera menyesuaikan diri dengan situasi sekolah. Jika situasi sekolah disiplin, siswa akan ikut sisiplin. Kepala sekolah memegang peran penting dalam membentuk disiplin sekolah, mulai dari merancang, melaksanakan, dan menjaganya.
Cara merancang kedisiplinan sekolah :
a. Penyusunan rancangan harus melibatkan seluruh warga sekolah
b. Rancangan harus sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah
c. Rancangan harus singkat, jelas, sehingga mudah dipahami
d. Rancangan harus memuat secara jelas daftar perilaku yang dilarang beserta sanksinya.
Pelaksanaan dispilin sekolah
a. Memasyarakatkan peraturan yang telah disepakati bersama
b. Yakinkan bahwa peraturan yang dibuat dapat menumbuhkan kedisiplinan warga sekolah
c. Berilah kepercayaan kepada guru, karyawan dan staf untuk melaksanakan kedisiplinan sehari-hari
d. Lakukan pemantauan pelaksananaan peraturan
e. Menjadi teladan dengan berperilaku disiplin
f. Segera atasi jika ada pelanggaran dengan menetapkan sanksi secara konsisten
g. Secara periodik dilakukan peninjauan kembali terhadap aktualitas peraturan
h. Berilah penghargaan kepada warga sekolah yang berperilaku disiplin
i. Tumbuhkan lingkungan yang saling menghargai
j. Bangunlah rasa kepedulian dan kebersamaan
k. Ikutsertakan orang tua dalam pelaksanaan disiplin
l. Ikutsertakan OSIS dalam pelaksanaan disiplin
m. Hindarkan sekolah dari ancaman pihak luar
n. Siapkan prosedur yang harus ditempuh jika ada keadaan darurat
o. Buatlah peta siswa bermasalah
p. Lakukan evaluasi tentang pelaksananaan disiplin melalui pertemuan warga sekolah
Motivasi Belajar
Berikut beberapa bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain :
Rancanglah pembelajaran yang penuh arti dan bermakna
Tumbuhkan harga diri siswa dengan menciptakan harapan untuk sukses
Ciptakan hubungan yang hangat dengan siswa, dengan mengenal siswa dan menggunakan alat peraga saat pembelajaran
Gunakan metoda mengajar yang kreatif dan inovatif
Salurkan minat dan kegemaran siswa dalam berbagai kegiatan
Bentuklah kelompok-kelompok belajar.
Peran Aktif Orang tua dalam Program Sekolah
Peran orang tua sangat penting dalam realisasi program sekolah. Dalam hal ini, orang tua dapat berperan penting dalam menyediakan lingkungan yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan baik. Cara yang dapat dilakukan antara lain :
Kegitan rutin di rumah
Pada jam-jam belajar, orang tua juga perlu “belajar”, misalnya membaca koran atau buku keagamaan.
Prioritas diberikan pada tugas yang terkait dengan sekolah.
Bila ada dua kegiatan yang harus dilakukan anak, maka utamakan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah.
Mendorong untuk aktif dalam kegiatan sekolah, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler.
Memberikan kesempatan anak untuk menggali ide, kegiatan lain, yang terkait dengan tugas sekolah di rumah.
Menciptakan situasi diskusi atau tukar pendapat tentang berbagai hal.
Orang tua perlu mendengarkan dan mengetahui pengalaman anak di sekolah.
Menyediakan sarana belajar yang memadai di rumah.
Hubungan Baik dengan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dengan masyarakat di sekitarnya sangat penting. Di satu sisi sekolah memerlukan masukan dari masyarakat dalam menyusun program sekolah yang relevan, sekaligus memerlukan dukungan masyarakat dalam melaksanakan program tersebut. Prinsipnya hubungan sekolah dan masyarakat harus saling memberikan kepuasan. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah menetapkan komunikasi yang efektif. Caranya bisa dilakukan dengan :
Melaksanakan program-program kemasyarakatan, misalnya membersikan lingkungan, santunan sosial dan lain-lain yang bisa menumbuhkan simpati masyarakat.
Mengadakan open house yang memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui program dan kegiatan sekolah.
Mengadakan buletin sekolah atau majalah sekolah yang memuat informasi kegiatan-kegiatan sekolah.
Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara atau pembina suatu program sekolah.
Membuat program kerjasama sekolah dengan masyarakat, misalnya perayaan hari besar nasional atau keagamaan bersama.
Ketahanan Sekolah
Ketahanan sekolah adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kekuatan positif yang bersumber antara lain dari peran aktif siswa, guru, karyawan dan anggota masyarakat sekitar lingkungan sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas yang terkait kependidikan. Ketahanan sekolah harus selalu dipelihara dan ditingkatkan keberadaannya, karena merupakan prasyarat bagi kelancaran proses pembelajaran yang aman, tertib dan berdisiplin. Oleh karena itu, manajemen sekolah harus senantiasa mendorong warga sekolah untuk :
1. Mentaari dan mematuhi tata tertib
2. Menjaga nama baik diri sendiri, orang tua, keluarga dan sekolah
3. Saling menghormati antarsesama warga sekolah
4. Belajar keras, kreatif, terencana, teratur dan berkelanjutan
5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan seremonial dengan tertib, disiplin, khidmat dan penuh kesungguhan serta semangat
6. Melaksanakan kegiatan olah raga secara teratur guna menjaga kebugaran dan kesehatan
7. Berperan aktif dalam memelihara keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat
8. Berusaha untuk senantiasa berikap dan berperilaku yang baik.
Selanjutnya, kapan kita harus lebih mewaspadai terhadap keberadaan ketahanan sekolah?
1. Pada saat kelihatan tanda/gejala ketidaktaatan atau ketidakpatuhan warga sekolah terhadap tata tertib sekolah
2. Pada saat mulai masuknya pengaruh buruk yang merusak kepribadian siswa seperti film, sinetron, narkoba dan lainnya
3. Pada saat nampak gejala tidak lancarnya proses belajar di sekolah yang disebabkan antara lain jam-jam kosong dan kegiatan lain yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran.
4. Pada saat kurang terpeliharanya kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah
5. Pada saat terganggunya kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran.
Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh persepsi yang sama dan semangat kebersamaan warga sekolah dalam berusaha menciptakan ketahanan sekolah. Antusiasme warga sekolah dalam menjaga dan memelihara kenyamanan, kemanaman, kedisiplinan, ketertiban, kebersihan dan keindahan sekolah sebagai bagian dari ketahanan sekolah merupakan syarat mutlak terwujudnya sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala. Bila hal ini benar-benar terwujud, maka sekolah sebagai pelaksana terdepan tujuan pendidikan nasional akan menjadi kenyataan. ***
Jakarta, 10 September 2008
Bahan Bacaan :
Depdikbud, 1995. Bahan Penataran P4 bagi Siswa. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2000. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Direktorat Dikmenum.
Hernowo. 2006. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan. Bandung : MLC.
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa,E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.---
Poster, Cyril. 2000. Gerakan Menciptakan Sejolah Unggul. Jakarta: Lembaga Indonesia Adidaya.
Oleh : Drs. Tongato, M.Si.
Sekolah merupakan lembaga penyelenggara proses pembelajaran yang berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai, memproses dan menemukan ilmu pengetahuan, memproduksi teknologi, mengasah keterampilan, memperluas wawasan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu lembaga, sekolah memiliki karakteristik yang berbeda dengan lembaga lain. Ambil contoh, rumah sakit yang berfungsi untuk proses penyembuhan pasien yang datang, barak militer yang menjadikan penghuni berdisiplin keras ataupun lembaga pengadilan yang memandang terdakwa bersalah atau tidak bersalah.
Dalam kedudukannya sebagai lembaga pendidikan, sekolah merupakan sarana untuk menggali potensi peserta didik menjadi manusia yang utuh, berkepribadian, berkarakter dan mampu membelajarkan dirinya sendiri sebagai manusia pembelajar sepanjang hayatnya. Untuk mencapai fungsi ini, tentunya sekolah harus meletakkan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang mampu mengaktualkan potensi peserta didik. Suasana yang mendukung inilah yang kita namakan Wawasan Wiyatamandala.
Iklim sekolah yang kondusif untuk pembelajaran merupakan prasyarat bagi terwujudnya Wawasan Wiyatamandala. Lingkungan sekolah yang aman, tertib, bersih, nyaman, menyenangkan, penuh kreatifitas dan optimisme dalam berbagai proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik merupakan penopang Wawasan Wiyatamandala.
Arti dan Makna Wawasan Wiyatamandala
Secara harfiah kata wawasan mengandung arti pandangan, penglihatan, tinjauan atau tanggapan inderawi. Kata wawasan juga menunjuk kepada kegiatan untuk mengetahui isi, melukiskan cara memandang atau meninjau. Kata wiyata mempunyai arti pembelajaran atau pendidikan, sedangkan mandala berarti bulatan, lingkaran atau lingkungan daerah, atau kawasan. Dengan demikian, Wawasan Wiyatamandala berarti suatu pandangan atau tinjauan mengenai sekolah sebagai lingkungan tempat pembelajaran peserta didik.
Tentunya, dalam mengimplementasikan Wawasan Wiyatamandala, kita harus selalu memperhatikan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana kita ketahui, visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Selanjutnya, misi pendidikan nasional adalah sebagai berikut :
Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia
Meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional,
Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global,
Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar,
Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral,
Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global,
Mendorong peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3 dikemukakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”
Terkait dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka Wawasan Wiyatamandala mengandung makna sebagai berikut :
Pertama, penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, yang dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreatifitas peserta didik. Prinsip ini menjadikan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke arah pembelajaran. Pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dan transformasi pengetahuan kepada peserta didik, bergeser pada pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengaktualisasikan potensinya.
Kedua, adanya perubahan pandangan tentang paradigma manusia dari paradigma manusia sebagai sumber daya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subjek pembanguan. Dalam hal ini, proses pendidikan harus mencakup (1) penumbuhkembangan keimanan dan ketakwaan; (2) pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadaian; (3) pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) pengembangan penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni, serta (5) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani.
Ketiga, adanya pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial kulturalnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri dan berbudaya.
Menciptakan Pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks yang melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis. Hal ini dikarenakan, pembelajaran berlangsung dalam lingkungan pendidikan dimana peserta didik memiliki taraf perkembangan yang berbeda sehingga perlakuan peserta didik dalam belajar juga bersifat unik. Satu peserta didik dalam cara dan gaya belajarnya bervariasi sehingga membutuhkan beragam metode pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal peserta didik, serta keharusan menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Dalam pembelajaran ini, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar peserta didik.
Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Dalam pembelajan ini, guru harus mampu merangsang kreatifitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berfikir maupun dalam melakukan tindakan.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan pembelajaran yang medorong peserta didik berperan aktif dalam mencapai tujuan secara optimal. Peserta didik merupakan pusat kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya, peserta didik harus terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Guru harus mampu mengelola tempat belajar, peserta didik, kegiatan pembelajaran, isi pembelajaran dan sumber-sumber belajar.
Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa paksaan. Guru adalah mitra belajar, bahkan dalam kondisi tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari peserta didik.
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal. Selain itu, pembelajaran menyenangkan dapat dilakukan dalam proses mencari AMBAK, yakni apa manfaatnya bagiku. Menurut Quantum Learning, AMBAK yang sangat jelas dan spesifik akan memotivasi peserta didik untuk melakukan suatu kegiatan secara hebat. “Apa pun yang ingin Anda lakukan, jika Anda melakukan itu tidak memberikan manfaat, ada kemungkinan besar Anda akan ogah-ogahan melakukannya.”
Kondisi-kondisi yang Mendukung Pelaksanaan Wawasan Wiyatamandala
Kondisi-kondisi yang mendukung pelaksanaan Wawasan Wiyatamandala meliputi budaya disiplin warga sekolah, motivasi belajar, dan peran aktif orang tua dalam program sekolah.
Budaya disiplin warga sekolah
Sekolah yang tertib, aman dan tertur merupakan prasyarat agar peserta didik dapat belajar secara maksimal. Kondisi semacam ini dapat terjadi bila disiplin di sekolah berjalan dengan baik. Kedisiplinan peserta didik dapat ditumbuhkan jika iklim sekolah menunjukkan kedisiplinan. Siswa baru akan segera menyesuaikan diri dengan situasi sekolah. Jika situasi sekolah disiplin, siswa akan ikut sisiplin. Kepala sekolah memegang peran penting dalam membentuk disiplin sekolah, mulai dari merancang, melaksanakan, dan menjaganya.
Cara merancang kedisiplinan sekolah :
a. Penyusunan rancangan harus melibatkan seluruh warga sekolah
b. Rancangan harus sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah
c. Rancangan harus singkat, jelas, sehingga mudah dipahami
d. Rancangan harus memuat secara jelas daftar perilaku yang dilarang beserta sanksinya.
Pelaksanaan dispilin sekolah
a. Memasyarakatkan peraturan yang telah disepakati bersama
b. Yakinkan bahwa peraturan yang dibuat dapat menumbuhkan kedisiplinan warga sekolah
c. Berilah kepercayaan kepada guru, karyawan dan staf untuk melaksanakan kedisiplinan sehari-hari
d. Lakukan pemantauan pelaksananaan peraturan
e. Menjadi teladan dengan berperilaku disiplin
f. Segera atasi jika ada pelanggaran dengan menetapkan sanksi secara konsisten
g. Secara periodik dilakukan peninjauan kembali terhadap aktualitas peraturan
h. Berilah penghargaan kepada warga sekolah yang berperilaku disiplin
i. Tumbuhkan lingkungan yang saling menghargai
j. Bangunlah rasa kepedulian dan kebersamaan
k. Ikutsertakan orang tua dalam pelaksanaan disiplin
l. Ikutsertakan OSIS dalam pelaksanaan disiplin
m. Hindarkan sekolah dari ancaman pihak luar
n. Siapkan prosedur yang harus ditempuh jika ada keadaan darurat
o. Buatlah peta siswa bermasalah
p. Lakukan evaluasi tentang pelaksananaan disiplin melalui pertemuan warga sekolah
Motivasi Belajar
Berikut beberapa bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain :
Rancanglah pembelajaran yang penuh arti dan bermakna
Tumbuhkan harga diri siswa dengan menciptakan harapan untuk sukses
Ciptakan hubungan yang hangat dengan siswa, dengan mengenal siswa dan menggunakan alat peraga saat pembelajaran
Gunakan metoda mengajar yang kreatif dan inovatif
Salurkan minat dan kegemaran siswa dalam berbagai kegiatan
Bentuklah kelompok-kelompok belajar.
Peran Aktif Orang tua dalam Program Sekolah
Peran orang tua sangat penting dalam realisasi program sekolah. Dalam hal ini, orang tua dapat berperan penting dalam menyediakan lingkungan yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan baik. Cara yang dapat dilakukan antara lain :
Kegitan rutin di rumah
Pada jam-jam belajar, orang tua juga perlu “belajar”, misalnya membaca koran atau buku keagamaan.
Prioritas diberikan pada tugas yang terkait dengan sekolah.
Bila ada dua kegiatan yang harus dilakukan anak, maka utamakan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah.
Mendorong untuk aktif dalam kegiatan sekolah, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler.
Memberikan kesempatan anak untuk menggali ide, kegiatan lain, yang terkait dengan tugas sekolah di rumah.
Menciptakan situasi diskusi atau tukar pendapat tentang berbagai hal.
Orang tua perlu mendengarkan dan mengetahui pengalaman anak di sekolah.
Menyediakan sarana belajar yang memadai di rumah.
Hubungan Baik dengan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dengan masyarakat di sekitarnya sangat penting. Di satu sisi sekolah memerlukan masukan dari masyarakat dalam menyusun program sekolah yang relevan, sekaligus memerlukan dukungan masyarakat dalam melaksanakan program tersebut. Prinsipnya hubungan sekolah dan masyarakat harus saling memberikan kepuasan. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah menetapkan komunikasi yang efektif. Caranya bisa dilakukan dengan :
Melaksanakan program-program kemasyarakatan, misalnya membersikan lingkungan, santunan sosial dan lain-lain yang bisa menumbuhkan simpati masyarakat.
Mengadakan open house yang memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui program dan kegiatan sekolah.
Mengadakan buletin sekolah atau majalah sekolah yang memuat informasi kegiatan-kegiatan sekolah.
Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara atau pembina suatu program sekolah.
Membuat program kerjasama sekolah dengan masyarakat, misalnya perayaan hari besar nasional atau keagamaan bersama.
Ketahanan Sekolah
Ketahanan sekolah adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kekuatan positif yang bersumber antara lain dari peran aktif siswa, guru, karyawan dan anggota masyarakat sekitar lingkungan sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas yang terkait kependidikan. Ketahanan sekolah harus selalu dipelihara dan ditingkatkan keberadaannya, karena merupakan prasyarat bagi kelancaran proses pembelajaran yang aman, tertib dan berdisiplin. Oleh karena itu, manajemen sekolah harus senantiasa mendorong warga sekolah untuk :
1. Mentaari dan mematuhi tata tertib
2. Menjaga nama baik diri sendiri, orang tua, keluarga dan sekolah
3. Saling menghormati antarsesama warga sekolah
4. Belajar keras, kreatif, terencana, teratur dan berkelanjutan
5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan seremonial dengan tertib, disiplin, khidmat dan penuh kesungguhan serta semangat
6. Melaksanakan kegiatan olah raga secara teratur guna menjaga kebugaran dan kesehatan
7. Berperan aktif dalam memelihara keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat
8. Berusaha untuk senantiasa berikap dan berperilaku yang baik.
Selanjutnya, kapan kita harus lebih mewaspadai terhadap keberadaan ketahanan sekolah?
1. Pada saat kelihatan tanda/gejala ketidaktaatan atau ketidakpatuhan warga sekolah terhadap tata tertib sekolah
2. Pada saat mulai masuknya pengaruh buruk yang merusak kepribadian siswa seperti film, sinetron, narkoba dan lainnya
3. Pada saat nampak gejala tidak lancarnya proses belajar di sekolah yang disebabkan antara lain jam-jam kosong dan kegiatan lain yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran.
4. Pada saat kurang terpeliharanya kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah
5. Pada saat terganggunya kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran.
Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh persepsi yang sama dan semangat kebersamaan warga sekolah dalam berusaha menciptakan ketahanan sekolah. Antusiasme warga sekolah dalam menjaga dan memelihara kenyamanan, kemanaman, kedisiplinan, ketertiban, kebersihan dan keindahan sekolah sebagai bagian dari ketahanan sekolah merupakan syarat mutlak terwujudnya sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala. Bila hal ini benar-benar terwujud, maka sekolah sebagai pelaksana terdepan tujuan pendidikan nasional akan menjadi kenyataan. ***
Jakarta, 10 September 2008
Bahan Bacaan :
Depdikbud, 1995. Bahan Penataran P4 bagi Siswa. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2000. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Direktorat Dikmenum.
Hernowo. 2006. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan. Bandung : MLC.
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa,E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.---
Poster, Cyril. 2000. Gerakan Menciptakan Sejolah Unggul. Jakarta: Lembaga Indonesia Adidaya.
Senin, 09 Maret 2009
CIVIL SOCIETY DAN PENDIDIKAN KITA
CIVIL SOCIETY DAN PENDIDIKAN KITA
Oleh : Tongato*
Wacana civil society mengemuka saat-saat akhir pemerintahan Orde Baru. Kemunculannya dimaksudkan bukanlah untuk merebut kekuasaan, akan tetapi untuk memberdayakan masyarakat agar menyadari akan kepentingan umum tanpa harus merugikan kepentingan pribadi. Pemberdayaan ini dilakukan oleh masyarakat itu sendiri bukan dilakukan oleh negara. Filosofinya adalah bahwa kepentingan masyarakat itu haruslah diperjuangkan oleh masyarakat itu sendiri. Sebab, siapa yang akan peduli dengan kepentingan masyarakat tanpa masyarakat peduli dengan dirinya sendiri. Negara sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Selain itu, negara yang dikelola oleh para pejabat tentunya tak mungkin tidak mempunyai kepentingan dirinya sendiri.
Hal yang patut pula dicatat adalah bahwa warga civil society adalah warga masyarakat yang patuh pada hukum. Mereka amat peka terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh negara sebagai manifestasi dari kepatuhannya terhadap hukum. Warga civil society membagun organisasi-organisasi secara sukarela dan atas kesadaran dirinya sendiri. Kesadaran berorganisasi ini akan memudahkan masyarakat sendiri dalam memperjuangkan kepentingannya.
Para ahli kemasyarakatan sepakat bahwa civil society merupakan syarat terbentuknya negara demokratis. Tiada negara demokrasi tanpa adanya civil society. Sebab dalam civil society, warga masyarakat akan selalu mengawasi gerak dan tingkah laku kekuasaan pemerintah. Asumsinya adalah bahwa kekuasaan bisa menjadi otoriter bila tak ada kontrol dari masyarakat.
Pendidikan sebagai wahana mentranformasikan nilai-nilai dalam masyarakat kepada peserta didik nampaknya perlu menengok akan pentingnya civil society. Ini bila kita sebagai bangsa sepakat bahwa kita akan membangun demokrasi Indonesia yang berkualitas di masa datang. Peserta didik sebagai warga masyarakat yang akan terlibat aktif membangun bangsa di masa datang tentunya amat perlu mengenal berbagai aspek civil society ini. Pemahaman yang memadai tentang civil society akan membawa harapan kehidupan demokrasi di negeri ini, disamping juga akan bisa mencegah lahirnya pemimpin-pemimpin otoriter di waktu-waktu mendatang.
Ada beberapa hal yang patut diperhatikan ketika kita (baca: guru) akan mentranformasikan nilai-nilai civil society kepada peserta didik. Pertama, transformasi nilai-nilai civil society itu tidak memerlukan pelajaran tersendiri. Nilai-nilai civil society bisa diaktualisasikan dalam cara mengajar guru. Berilah pemahaman kepada peserta didik bahwa mereka mempunyai kepentingan pribadi yang harus diperjuangkan dalam menuntut ilmu di sekolah. Guru hanyalah sebagai fasilitator, mediator dan motivator pendidikan yang menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan persepsi kepentingannya. Manakala persepsi kepentingan guru tidak sesuai dengan kepentingan peserta didik, maka peserta didik harus cepat-cepat memberikan reaksi dengan mengemukakan akan kepentingannya menuntut ilmu.
Kedua, karena civil society memerlukan kehadiran banyak organisasi, maka sekolah harus memberikan kebebasan peserta didik untuk mendirikan organisasi-organisasi secara independen. Selama ini sekolah hanya mengakui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai satu-satunya organisasi yang resmi diakui sekolah. Dinamika OSIS juga lebih banyak sebagai kepanjangan tangan kepala sekolah/guru daripada memperjuangkan kepentingan peserta didik. Akibatnya, hampir dirasakan kehadiran OSIS hanya sekedar “ada” tanpa mempunyai roh. Bila pun OSIS hanya satu dalam satu sekolah maka hendaknya diubah kedudukkannya menjadi semacam federasi. Ini akan memberikan kebebasan peserta didik dalam mengaktualisasikan diri dalam berorganisasi.
Ketiga, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya harus menyadari akan pentingnya penguatan civil society di sekolah. Tidak ada satupun negara demokratis di dunia yang mengabaikan hadirnya civil society di dalamnya. Hal ini tentunya memerlukan perubahan paradigma lama bahwa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah “superman”, orang yang serba tahu dan serba benar, sedangkan peserta didik tidak tahu apa-apa. Paradigmanya seharusnya adalah bahwa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah sekedar fasilitator, mediator dan motivator pendidikan, sedangkan peserta didik adalah insan-insan yang mempunyai semangat tinggi untuk mengetahui dan berkembang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.
Akhirnya, jika ketiga hal tersebut di atas menjadi perhatian dan kesadaran para pendidik maka kita sebagai bangsa boleh berharap bahwa akan lahir kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dan kehidupan demokratis itu akan melahirkan kreatifitas warga masyarakat sebagai prasyarat kemajuan bangsa.***
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMU YPKP DKI Jakarta
Alamat : SMU PKP DKI Jakarta
Jl. Raya PKP
Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur
Telp. 8720627
E-mail: tongatomaw@gmail.com
Oleh : Tongato*
Wacana civil society mengemuka saat-saat akhir pemerintahan Orde Baru. Kemunculannya dimaksudkan bukanlah untuk merebut kekuasaan, akan tetapi untuk memberdayakan masyarakat agar menyadari akan kepentingan umum tanpa harus merugikan kepentingan pribadi. Pemberdayaan ini dilakukan oleh masyarakat itu sendiri bukan dilakukan oleh negara. Filosofinya adalah bahwa kepentingan masyarakat itu haruslah diperjuangkan oleh masyarakat itu sendiri. Sebab, siapa yang akan peduli dengan kepentingan masyarakat tanpa masyarakat peduli dengan dirinya sendiri. Negara sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Selain itu, negara yang dikelola oleh para pejabat tentunya tak mungkin tidak mempunyai kepentingan dirinya sendiri.
Hal yang patut pula dicatat adalah bahwa warga civil society adalah warga masyarakat yang patuh pada hukum. Mereka amat peka terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh negara sebagai manifestasi dari kepatuhannya terhadap hukum. Warga civil society membagun organisasi-organisasi secara sukarela dan atas kesadaran dirinya sendiri. Kesadaran berorganisasi ini akan memudahkan masyarakat sendiri dalam memperjuangkan kepentingannya.
Para ahli kemasyarakatan sepakat bahwa civil society merupakan syarat terbentuknya negara demokratis. Tiada negara demokrasi tanpa adanya civil society. Sebab dalam civil society, warga masyarakat akan selalu mengawasi gerak dan tingkah laku kekuasaan pemerintah. Asumsinya adalah bahwa kekuasaan bisa menjadi otoriter bila tak ada kontrol dari masyarakat.
Pendidikan sebagai wahana mentranformasikan nilai-nilai dalam masyarakat kepada peserta didik nampaknya perlu menengok akan pentingnya civil society. Ini bila kita sebagai bangsa sepakat bahwa kita akan membangun demokrasi Indonesia yang berkualitas di masa datang. Peserta didik sebagai warga masyarakat yang akan terlibat aktif membangun bangsa di masa datang tentunya amat perlu mengenal berbagai aspek civil society ini. Pemahaman yang memadai tentang civil society akan membawa harapan kehidupan demokrasi di negeri ini, disamping juga akan bisa mencegah lahirnya pemimpin-pemimpin otoriter di waktu-waktu mendatang.
Ada beberapa hal yang patut diperhatikan ketika kita (baca: guru) akan mentranformasikan nilai-nilai civil society kepada peserta didik. Pertama, transformasi nilai-nilai civil society itu tidak memerlukan pelajaran tersendiri. Nilai-nilai civil society bisa diaktualisasikan dalam cara mengajar guru. Berilah pemahaman kepada peserta didik bahwa mereka mempunyai kepentingan pribadi yang harus diperjuangkan dalam menuntut ilmu di sekolah. Guru hanyalah sebagai fasilitator, mediator dan motivator pendidikan yang menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan persepsi kepentingannya. Manakala persepsi kepentingan guru tidak sesuai dengan kepentingan peserta didik, maka peserta didik harus cepat-cepat memberikan reaksi dengan mengemukakan akan kepentingannya menuntut ilmu.
Kedua, karena civil society memerlukan kehadiran banyak organisasi, maka sekolah harus memberikan kebebasan peserta didik untuk mendirikan organisasi-organisasi secara independen. Selama ini sekolah hanya mengakui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai satu-satunya organisasi yang resmi diakui sekolah. Dinamika OSIS juga lebih banyak sebagai kepanjangan tangan kepala sekolah/guru daripada memperjuangkan kepentingan peserta didik. Akibatnya, hampir dirasakan kehadiran OSIS hanya sekedar “ada” tanpa mempunyai roh. Bila pun OSIS hanya satu dalam satu sekolah maka hendaknya diubah kedudukkannya menjadi semacam federasi. Ini akan memberikan kebebasan peserta didik dalam mengaktualisasikan diri dalam berorganisasi.
Ketiga, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya harus menyadari akan pentingnya penguatan civil society di sekolah. Tidak ada satupun negara demokratis di dunia yang mengabaikan hadirnya civil society di dalamnya. Hal ini tentunya memerlukan perubahan paradigma lama bahwa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah “superman”, orang yang serba tahu dan serba benar, sedangkan peserta didik tidak tahu apa-apa. Paradigmanya seharusnya adalah bahwa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah sekedar fasilitator, mediator dan motivator pendidikan, sedangkan peserta didik adalah insan-insan yang mempunyai semangat tinggi untuk mengetahui dan berkembang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.
Akhirnya, jika ketiga hal tersebut di atas menjadi perhatian dan kesadaran para pendidik maka kita sebagai bangsa boleh berharap bahwa akan lahir kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dan kehidupan demokratis itu akan melahirkan kreatifitas warga masyarakat sebagai prasyarat kemajuan bangsa.***
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMU YPKP DKI Jakarta
Alamat : SMU PKP DKI Jakarta
Jl. Raya PKP
Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur
Telp. 8720627
E-mail: tongatomaw@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)